Tampilkan postingan dengan label pelangsing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelangsing. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Juni 2017

Senam Zumba, Ampuh Turunkan Bobot Tubuh dan Meratakan Perut loh

Senam Zumba, Ampuh Turunkan Bobot Tubuh dan Meratakan Perut loh

Kamis, 23 Februari 2017 14:40 Penulis: Anisha Saktian Putri
copyright by Shutterstock.com
 
Vemale.com - Selain harus menjaga pola makan yang sehat, keberhasilan melakukan proses diet juga terletak pada olahraga yang teratur. Jika tidak mau olahraga yang berat, kamu bisa mencoba senam zumba nih ladies. Olahraga ini sangat dianjurkan bagi kamu yang ingin menurunkan bobot tubuh.

"Zumba memang cocok untuk menurunkan berat badan serta meratakan perut buncit karena bermanfaat membakar kalori," ujar Dewi Indira, Instruktur zumba, pound fit, pilates, serta bar saat ditemui tim Vemale di kawasan Jakarta Pusat.

Biasanya, senam ini diiringi dengan musik latin atau musik-musik yang membuat kita semangat. Gerakan-gerakannya pun sangat menyenangkan dan mudah diikuti bagi siapa pun.

Ketika zumba, seseorang akan mengeluarkan banyak keringat yang menandakan adanya pembakaran kalori dalam tubuh. Dalam satu jam, kamu bisa membakar sekitar 1.000 kalori dalam tubuh. Bahkan, melakukan zumba tiga kali tiap minggu, selama sebulan, kamu bisa menurunkan bobot tubuh hingga tiga kilogram.

"Obrolkan terlebih dahulu keluhan atau problem tubuh mana yang harus diperbaiki dengan Instruktur zumba. Dari situlah kamu tahu baiknya melakukan zumba berapa kali dalam seminggu," tambah ibu dari dua anak ini.

Idealnya, Dewi menambahkan, sebaiknya kombinasikan antara zumba dengan yoga atau pilates agar memiliki manfaat lebih lainnya seperti tidak mudah stres. Kamu juga perlu memerhatikan apa saja yang perlu kamu lakukan agar tidak cidera.

"Zumba sebenarnya untuk menghambat rasa lapar jadi kamu yang sedang melakukan proses diet sangat pas melakukan olahraga ini. Tak hanya itu, kualitas tidur pun semakin baik seperti jam tidur yang teratur, tidur lebih nyenyak dan saat bangun kita menjadi lebih semangat," tutupnya.

Kamis, 08 Juni 2017

5 Mitos Diet yang Tak Boleh Anda Ikuti

Apa saja mitos diet yang harus Anda hindari? Berikut ulasannya.


5 Mitos Diet yang Tak Boleh Anda Ikuti
Klikdokter.com, Jakarta Menurunkan berat badan menjadi perjuangan bagi sebagian orang. Berbagai cara diet kadang dihalalkan demi menurunkan bobot berlebih. Namun, waspadalah dengan banyaknya mitos diet yang beredar.

Berikut ini lima mitos diet yang sebaiknya Anda hindari:
Baca Juga
  • Menghindari makan malam

    Makan malam ibarat momok yang menakutkan bagi pelaku diet. Makan malam pun sering disalahkan sebagai penyebab berat badan Anda melonjak.

    Faktanya, menghindari makan malam justru akan membuat Anda lebih lapar dan cenderung mengemil pada malam hari. Untuk menyiasatinya, pilihlah makanan yang tinggi serat tetapi rendah kalori, seperti sayur dan buah

  • Diet detoks

    Memang, berat badan Anda dapat turun dengan minum jus buah atau sayuran saja dalam sehari. Namun, Anda tidak mungkin melakukan pola diet tersebut seumur hidup, bukan?

    Ketika Anda kembali ke pola makan normal, justru berat badan Anda akan meningkat dan Anda akan kehilangan berbagai nutrisi penting.

  • Menghindari karbohidrat

    Karbohidrat merupakan sumber energi utama tubuh Anda. Menghindari karbohidrat justru akan membuat Anda lemas dan tidak berenergi.

    Untuk menyiasatinya, Anda bisa mengganti karbohidrat yang tinggi serat tetapi rendah indeks glikemik. Contohnya, beras merah atau roti gandum.

  • Melakukan diet sangat rendah kalori

    Diet dengan kalori yang sangat rendah (< 1000 kalori) akan membuat Anda kekurangan berbagai vitamin dan mineral penting.

    Berat badan Anda memang dapat turun sekejap, tetapi Anda juga bisa berisiko mengalami efek samping kesehatan. Seperti diare, muntah, bau mulut, hingga kerontokan rambut.

  • Berolahraga dengan perut kosong

    Ada mitos bahwa berolahraga dengan perut kosong dapat membakar kalori lebih banyak. Berdasarkan penelitian, berolahraga dengan atau tanpa makan terlebih dahulu tidak akan banyak memengaruhi pembakaran kalori.
Namun, ada baiknya Anda makan terlebih dahulu maksimal 1 jam sebelum berolahraga agar tidak terjadi gangguan pencernaan.

Menurunkan berat badan paling baik dilakukan dengan kombinasi diet sehat dan olahraga. Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Anda harus tetap melakukan olahraga bersamaan dengan pengaturan makanan.
Telitilah setiap informasi yang Anda dengar agar tidak terjebak dalam mitos diet yang bisa merugikan Anda. Hindari penurunan berat badan yang drastis. Penurunan berat badan yang ideal adalah 0.5 kg per minggu.

[RS/ RH]

Rabu, 07 Juni 2017

Olahraga Terbaik untuk Kesehatan Tulang Bagi Anak-anak, Remaja, dan Dewasa


Tulang merupakan organ utama penyusun tubuh yang dapat tumbuh dan berkembang, tetapi tulang cenderung kehilangan massa secara perlahan saat seseorang memasuki usia 30 tahun. Hal tersebut menimbulkan risiko lebih tinggi terjadinya gangguan kesehatan tulang seperti osteoporosis.
Gangguan tersebut juga dapat terjadi lebih dini sebelum seseorang memasuki usia lanjut, bergantung asupan nutrisi dan jenis kelamin, di mana perempuan lebih berisiko mengalami penurunan masa tulang dibandingkan laki-laki. Meskipun demikian, terdapat cara untuk memperkuat tulang dan memperlambat hilangnya masa tulang, salah satunya dengan rutin melakukan olahraga untuk kesehatan tulang.

Bagaimana olahraga mempengaruhi kesehatan tulang

Tulang merupakan organ yang terus mengalami regenerasi. Ia tumbuh melalui mekanisme pelepasan jaringan tulang yang sudah lama (osteoclast) dan pembentukan jaringan tulang yang baru (osteoblast). Kedua mekanisme tersebut sangat dipengaruhi oleh tekanan yang diterima oleh tulang saat berolahraga.
Tekanan saat berolahraga berasal dari berat badan yang ditopang, dan juga kontraksi otot saat melakukan aktivitas yang dilakukan dengan berdiri, seperti berjalan atau berlari. Tekanan tersebut menyebabkan tulang melepaskan jaringan yang sudah lama dan membentuk jaringan yang baru.
Respon untuk membentuk jaringan tulang baru sangat bergantung tingkat kebugaran seseorang, dan pada umumnya terjadi secara perlahan, sehingga dalam menjaga kesehatan tulang dibutuhkan frekuensi yang lebih sering untuk berolahraga. Nutrisi yang mencukupi juga memengaruhi kecepatan regenerasi tulang, di mana tubuh memerlukan kalsium, vitamin D, vitamin K2 dan magnesium. Namun pada usia dewasa hingga usia lanjut, baik olahraga rutin dan nutrisi hanya berperan sebagai faktor yang memperlambat hilangnya massa tulang.

Efek olahraga terhadap kesehatan tulang juga dipengaruhi usia

Menjaga kesehatan tulang adalah upaya jangka panjang yang sudah dimulai sejak usia pertumbuhan dan anak-anak. Masa pertumbuhan tulang utama terjadi saat masa anak-anak hingga seseorang memasuki usia 20-25 tahun, dan kekuatan tulang dipengaruhi oleh tingkat aktivitas fisik saat masa anak-anak.
Suatu studi pada kelompok remaja berusia di bawah 21 tahun, menunjukkan bahwa mereka yang kurang aktif pada usia anak-anak memiliki tingkat kepadatan tulang yang jauh lebih rendah saat remaja. Tingkat kepadatan tulang saat usia remaja merupakan hal penting dalam pencegahan hilangnya massa tulang pada orang dewasa. Peneliti juga menemukan bahwa aktivitas sedentari (kurang bergerak) erat kaitannya dengan rendahnya masa tulang saat usia remaja.

Di usia pertumbuhan atau sebelum memasuki usia enam tahun, seorang anak sebaiknya aktif bergerak sepanjang hari. Sedangkan umur enam tahun hingga akhir masa usia pubertas atau sekitar usia 12 tahun, seorang anak sebaiknya aktif minimal selama 60 menit perhari. Aktif bergerak dan melakukan jenis olahraga yang dapat memperkuat kesehatan tulang sebaiknya tetap dilakukan hingga sekitar pertengahan dari usia 20-an pada saat tulang masih dapat mengalami proses penguatan.

Setelah tulang berhenti mengalami proses penguatan, kepadatan tulang pada umumnya mulai berkurang pada pertengahan usia 30-an hingga lansia. Tetap aktif bergerak dan memperoleh asupan nutrisi untuk tulang yang mencukupi adalah hal penting untuk menjaga kesehatan tulang pada usia dewasa, namun Anda perlu memperhatikan jenis olahraga yang dilakukan

Orang dewasa yang tidak aktif beraktivitas fisik pada usia muda akan lebih berisiko terjatuh dan patah tulang saat berolahraga. Maka sebaiknya hindari jenis olahraga yang yang dapat menimbulkan tekanan berlebih atau mengharuskan mereka untuk menahan beban yang terlalu berat pada tubuh bagian tertentu.

Jenis olahraga untuk kesehatan tulang

Jenis olahraga atau aktivitas fisik yang baik untuk tulang adalah olahraga yang memicu tulang dan otot menahan beban tubuh secara keseluruhan atau beban tambahan lainnya saat beraktivitas. Beberapa contoh kegiatan yang dapat memperkuat tulang dan otot berdasarkan kelompok usia di antaranya:

Di bawah umur 6 tahun

Jenis aktivitas yang dapat memicu perkembangan tulang adalah:
  • Merangkak
  • Memanjat
  • Aktif berjalan dan berlari
  • Bermain lompat

Usia anak-anak, remaja, dan dewasa di bawah 35 tahun

Usia ini memerlukan aktivitas yang dapat memperkuat dan menjaga kesehatan tulang yang dilakukan minimal 3 hari per minggu. Aktivitas tersebut di antaranya:
  • Olahraga lari atau jogging
  • Lompat tali
  • Olahraga bola; basket, sepak bola, hockey, rugby, voli, dll
  • Gimnastik
  • Olahraga dengan berat badan; press-up, push-up, squat
  • Aerobik
  • Angkat beban
  • Panjat tebing
  • Olahraga bela diri
  • Olahraga dengan raket: badminton dan tenis
  • Aktivitas menari

Usia di atas 35 tahun

Ini merupakan saat di mana hilangnya massa otot terjadi secara alamiah sehingga memerlukan jenis aktivitas yang dapat menjaga kesehatan tulang, dan dilakukan sebanyak minimal 2 hari per minggu. Aktivitas tersebut di antaranya:
  • Aktif bergerak dengan melakukan kegiatan pekerjaan rumah, bekerja, membawa barang belanja
  • Berjalan cepat dan menaiki tangga
  • Latihan ketahanan dengan angkat beban
  • Latihan fleksibilitas
  • Kegiatan berkebun
Kegiatan yang dapat dilakukan kelompok usia dewasa di atas 35 tahun pada umumnya juga dipengaruhi tingkat kebugaran, sehingga cenderung aman melakukan hal lainnya dengan intensitas yang lebih tinggi. Namun jika Anda berisiko mengalami patah tulang atau mengalami osteoporosis, hindari menggerakkan tubuh dengan jarak jangkau yang ekstrim dan melakukan kegiatan dengan tekanan atau impact yang minimal pada bagian tubuh.