Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Juni 2017

Subhanallah..., Ternyata Puasa Bagus untuk Kesehatan Ginjal


Ilustrasi. (net)
JAKARTA - Pada 1986, Dr Fahim Abdurrahim dan beberapa ilmuwan dari Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar melakukan sebuah riset mengenai pengaruh puasa Ramadhan bagi kinerja ginjal pada orang-orang normal dan para pasien penderita sejumlah penyakit sistem buang air maupun panyakit kencing batu (renal calculi).

Riset ini dilakukan pada 10 orang yang menderita penyakit sistem urinari dan lima belas pengidap remi calculi, di samping lima belas orang sehat sebagai bahan komparasi.

Selama fase puasa dan tidak puasa, sampel urine mereka diambil dan dianalisis untuk mengetahui kadar kalsium, sodium, potasium, urea, sel darah, dan zat asam urin. Pengaruh puasa pada unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut:
Terjadi penurunan signifikan pada volume kencing dengan peningkatan kepadatan kualitatifnya pada masing-masing kelompok responden. Selain itu terjadi beberapa perubahan yang sangat kecil (insignifikan) pada keseluruhan komponen serum: kalsium, sodium, potasium, zat asam urin, sel darah, dan urea.

Peningkatan insignifikan pada kalsium dalam air kencing juga dialami oleh semua responden. Ditambah lagi dengan peningkatan yang tak berarti pada zat asam urin dan urea pada seluruh kelompok.
Perubahan yang sama pada sodium dan potasium dialami oleh sampel pembanding (orang-orang yang sehat), juga sel darah urine kelompok sampel yang sakit.

Sebaliknya, kenaikan yang cukup tinggi terjadi pada kandungan sodium dan potasium di kalangan kelompok sampel yang sakit.

Dari data tersebut para peneliti pun berkesimpulan, bahwa puasa tidak membawa dampak negatif bagi semua penderita urinal yang menjadi sampel riset ini. Baik yang sakit karena faktor pembentukan batu ginjal atau karena gangguan sistem urinari (saluran kencing).

Pada tahun 1988, Qadir dan kawan-kawan melakukan penelitian serupa terhadap para penderita penyakit ginjal akut namun tetap menjalankan puasa selama bulan Ramadhan. Mereka menyatakan, bahwa tidak ada perubahan yang berarti pada volume urea, sel darah, sodium, bikarbonat, fosfor, dan kalsium.

Tetapi, ada peningkatan signifikan pada volume potasium dalam darah dan mereka menisbatkan penyebab kenaikan tersebut pada konsumsi minuman yang kaya potasium setelah berbuka.

Hal senada ditegaskan oleh Scott. Menurutnya, tidak ada perubahan berarti pada urea dan sel darah selama puasa.
Sumber: Terapi Puasa, Oleh Dr. Abdul Jawwad Ash-Shawi, dimuat oleh Republika.co.id. ***

Jaga Gula Darah Selama Bulan Puasa


Takjil berbuka Puasa [tempo]
[TANGERANG] Di bulan puasa atau ramadan ini menjadi waktu yang tepat bagi penderita diabetes sebagai latihan disiplin, baik pola makan maupun pola hidup. Dengan berpuasa yang teratur, gula darah di dalam tubuh pun terkontrol.

Dokter diabetologist dan endocrinologist, Siloam Hospitals Lippo Village, Tangerang, dr Johanes Purwoto, Sp.PD-KEMD mengatakan bagi orang yang sudah terkena diabetes, baiknya menjaga betul kesehatan di bulan suci ini agar kesehatannya tetap terjaga, khususnya gula darah. Namun bila tidak, hal ini justru membahayakan si penderita sendiri.

“Sebelum memutuskan untuk berpuasa atau tidak, ada baiknya lakukan pengecekan gula darah secara reguler ke dokter atau rumah sakit, demi mencegah kondisi semakin memburuk dan cepat mendapat penanganan. Kalau sebelum bulan puasa membaik, boleh puasa. Tapi kalau tidak, disarankan jangan karena gulanya bisa jadi tinggi dan rendah. Ini cukup rawan,” ujar sang dokter pada keterangannya Rabu (31/5).
Namun kalau sudah tidak keburu dan sudah berpuasa, periksa glukosa darah lebih sering. Waktu periksa yang tepat adalah saat tubuh merasa lemah atau tidak enak. Penderita diabetes masih dapat hidup hampir seperti orang normal apabila gula darah tetap terkontrol.

Batas normal gula darah seseorang adalah 70-130 mg/dL (miligram/deciliter). Kalau kurang dari 90 mg/dL di sore hari dinilai sudah harus berhati-hati, apalagi kurang dari 70 mg/dL, baiknya dibatalkan karena tubuh akan semakin drop bila dipaksakan. Ini dikarenakan tak adanya asupan makanan sehingga gula terlalu rendah.

Namun diabetas juga dianggap berbahaya bila sudah ada diambang 126-300 mg/dL. Untuk itu, dihimbau perlu disiasati kadar gula darah bagi diabetes selama puasa. Diabetas terbagi 4 tipe yakni resiko rendah (masih terkendali), sedang, tinggi dan paling tinggi sehingga memerlukan obat keras atau insulin.
Namun ada juga orang yang malas memeriksa glukosa darah dan menganggap tubuhnya baik-baik saja. Bila sudah ada tanda-tanda gula darah drop, kurang fokus, banyak berkeringat seperti di tangan, jantung berdebar lebih kencang, wajib memeriksakan diri ke dokter atau rumah sakit. Penderita diabetes yang sudah memerlukan obat akan membuat irama jantung terganggu.

“Bila anda sudah alami hal-hal tersebut, segera batalkan puasa dengan dengan yang manis. Bisa langsung menelan gula pasir dengan air, teh manis, jus manis, minuman manis. Tapi kalau kadar gulanya tinggi, jangan sampai kekurangan cairan karena bisa membuat darah kental sehingga merembet ke jantung dan berakibat pada penyakit struk,” ungkap dr Purwoto.

Dokter menyarankan saat berbuka puasa boleh minum yang manis, namun jangan terlalu berlebihan karena memicu diabetas jadi resiko tinggi. Minumlah 8 gelas per hari dan diatur waktunya. Tetapi ini juga melihat ukuran tubuh dan jenis pekerjaan seseorang ada di lapangan atau di kantor saja. Hindari kopi dan teh karena menguras cairan dalam tubuh dan membuat tubuh buang air kecil terus menerus.

“Selain berbuka dengan yang manis, tubuh kita perlu sayur dan buah segar, perbanyak serat, kurangi lemak daging sapi atau kambing dan lebih baik daging ayam tanpa kulit atau ikan. Sumber karbohidrat yang dianjurkan beras (nasi) merah, roti gandum yang yang berbiji-biji,” terangnya.

Sementara untuk sumber protein bisa dari telur namun kuningnya dibatasi. Kacang-kacangan pun baik. Hindari sumber lemak jahat seperti santan dan gorengan. Yang sehat adalah minyak zaitun atau buah zaitun. Sumber lemak baik ada pada buah alpukat.

Setelah tarawih tidak dianjurkan makan makanan sumber karbohidrat kembali seperti nasi. Sebaiknya sayur dan buah-buahan saja. Namun bila tetap masih ingin makan yang mengenyangkan bisa dengan roti gandum.

“Begitu juga dengan olahraga. Ada baiknya periksa dulu karena biasanya setelah berolahrga bisa membuat glukosa tinggi. Olahraga yang dianjurkan adalah aerobik, sepeda santai dan jogging. Obat paling murah untuk penderita diabetes adalah diet dan olahraga teratur dengan sering memeriksakan diri,” tutup dokter Purwoto dari Siloam Hospital Lippo Village ini. [H-15]